Friday, March 8, 2013

Isu Lahad Datu Menduduki Carta Pertama...

Tidak dinafikan isu Lahad Datu begitu hangat dan rata-rata penduduk malaysia akan berbicara mengenainya. Pergi saja ke kedai-kedai Kopi atau ke mana sahaja, anda akan dapati kebanyakkannya bercakap mengenai Lahad Datu.

Ada yang begitu emosional bila berbicara dan tak kurang juga yang bercakap soal strategi perang seolah-olah merekalah Panglima Angkatan tentera sekarang.. Ada yang salahkan pihak polis dan ada  juga yang berpendapat yang isu Lahad Datu adalah sandiwara poitik.


Saya tak nak ambil tahu itu semua, yang saya tau orang Malaysia begitu prihatin dengan isu keselamtan negara dan kejadiaan yang berlaku sekarang sebenarnya ada hikmahnya. Ialah bayangkan, orang yang kita tak pernah kita kenal sebelum ini boleh menyapa kita dan berbual mengenai Lahad Datu. Pemandu-pemandu  Teksi begitu bersemangat bercerita dengan pelanggan mereka dan ada yang menyatakan keingininan untuk bersama-sama berjuang di Lahad Datu. Penjual di kaki lima begitu hebat berbicara seolah-olah kitalah penceroboh yang menceroboh Sabah....

Yang kadang-kadang menyakitkan hati. di pihak sebelah sana dengan angkuh berkata "kami tak akan menyerah" walhal, yang hampir dengan kematian adalah pengikutnya. beliau bersenang lenang ditempat lain. kemudian berbunyi balik " kami mahu gencatan senjata" dan sekarang "bertukar tahanan perang". Pada pendapat saya, bunyinya tu seperti orang yang tidak boleh berpegang pada janji ..Allahuallam....

Apapun alasannya, perkara pertama yang tak patut dibuat oleh seorang yang mengaku Muslim adalah menyerang saudara seagamaya....membunuh seperti menghalalkan pertupahan darah memang sangat tak patut dilakukan. Benarlah kata seorang penulis (saya lupa namanya) yang pemerintah tut..(tak sanggup nak sebut namapun hahahah) sentiasa melakukan kesilapan dan kesilap sejak dari dulu lagi..sebab tu lah pemerintah ini memerintah kerajaan yang bukan miliknya...Allahuallam...


Marilah bersama kita bersolat hajat berdoa agar keamanan terus menerus milik Malaysia dan pejuang-pejuang yang gugur syahid terus dikenang....semoga ALLAH memberi hidayah kepada kita semua...sekian...Terima Kasih dari saya yang sekadar membuat catatan ringkas...

Monday, March 4, 2013

PH humanitarian team banned from Lahad Datu

By Julie Alipala
Inquirer Mindanao

MANILA, Philippines—Malaysian authorities have barred the humanitarian team sent by the Philippine government from entering Lahad Datu, stopping the group at Kota Kinabalu, a member of the team told the INQUIRER on Saturday.

“Upon reaching Sabah, the Malaysian authorities didn’t allow us to proceed to Lahad Datu. We were only allowed to stay in [Kota Kinabalu], so we left the place two days ago,” Mayor Nazif Ahmad Abdurahman of Simunul, Tawi-Tawi, told the INQUIRER by phone.





Abdurahman was among local officials from the Autonomous Region in Muslim Mindanao (ARMM) who were sent by Acting Gov. Mujiv Hataman to meet and talk with Agbimuddin Kiram in Lahad Datu.
Navy ship stopped “Our mission didn’t materialize because of the restrictions imposed by the Malaysian authorities,” Abdurahman said.

He said even the Philippine Navy ship sent to Malaysia to secure all illegally staying Filipinos wanting to come home had been denied entry by the Malaysian border patrol. “The ship just anchored off Sibutu and has been there for five days already,” Abdurahman said. Lt. Gen. Rey Ardo, chief of the military in Western Mindanao, confirmed that the Navy ship was still in Philippine waters as of Saturday. “The Navy boat was not able to get through the Malaysian border,” Ardo, who also has jurisdiction over the Navy in Western Mindanao, said.

Ardo said the military wanted to help Filipinos in Sabah, including those from the group led by Agbimuddin, to come home, but it could not do anything because the ship sent to bring them home could not get through border security. How to cross border He said the military learned that some of Agbimuddin’s followers and those illegally staying in Sabah wanted to return home.



“The problem they are facing now is how to cross the border,” Ardo said. The Malaysian border patrol has restricted movements into and out of Sabah, he said. A government source, who declined to be named due to the sensitivity of the Sabah issue, said he was told the Malaysian authorities would allow Philippine representatives to see Agbimuddin and his followers only after the so-called Sulu royal army had surrendered and laid down arms.

“The problem with the Kirams is that they refuse to surrender,” the source said. Agbimuddin calls
The source said Agbimuddin had called up relatives in Sulu and asked them to help bring home some members of his group. “Among the requests is to provide them security and bring them to Simunul Island,” the source added.

Credit to:  Globalnation.inquirer.net

nota: 
nampaknya kita dan mula menjaga kawasan sempadan kita. terima kasih kepada anggota keselamatan yang bertarung nyawa untuk memastikan kita selamat. doa dipanjatkan kepada yang terkorban amin...

Apa yang penting adalah kita mengkaji sejarah kesultanan Sulu supaya kita memahami dengan jelas isu yang timbul di Lahad Datu Khasnya dan di Sabah amnya.

untuk semua. belajarlah sejarah.....Sejarah amat penting untuk menentukan tindak tanduk kita dan kesan kepada generasi akan datang...




Kronologi Peristiwa di Lahad Datu (sumber BERNAMA)

KUALA LUMPUR: The following is the chronology of events pertaining to the intrusion into Lahad Datu, Sabah by an armed group from southern Philippines


Feb 9 - The group enters Malaysian waters in a boat and begins to gather in stages at Felda Sahabat 17, Kampung Tanduo in Lahad Datu. Feb 11 - A gang from the group is discovered by a group of local fishermen at night. The fishermen lodge a police report that 100 armed men in army fatigues are putting up in Kampung Tandou.


Feb 12 - The group breaks into smaller groups to enter several locations in the village, namely Sungai Bakau village, village surau and the house of one Ahmad Malandi, also known as Mad Bon.

Feb 14 - Prime Minister Najib Razak says the Malaysian government will try its best, including negotiations, to handle the issue of intrusion before ousting them from the area. Inspector-general of police Ismail Omar says the police identify the group of Filipinos who landed on the shore of Lahad Datu as being linked to the 'Sulu Sultanate' from southern Philippines.

He says the group claims to be the 'Royal Army of the Sulu Sultanate' and they do not want their people of Sulu descent to be sent back to their country of origin.

Ismail says, negotiations with the armed group is still in progress to find the best solution, without bloodshed.
A report quotes a Philippine army personnel, who is a loyal follower of Sulu raja muda, Azzimudie Kiram, as saying the group has come at the invitation of a "Malaysian opposition" to discuss land issues in Sabah.

Feb 16 - Home Minister Hishammuddin Hussein (centre in photo) confirms the group is not a militant or terrorist group but is in fact, strong supporter of the Sulu Sultanate and stresses the situation in Kampung Tanduo is under control.

The group, which wants to be known as the 'Royal Army of Sulu Sultanate', among others, is also claiming ownership of Sabah and wants the state to be returned as a territory of the Sulu Sultanate, claiming it was seized by the British from the Sulu Government.

Feb 18 - Hishammuddin says the governments of Malaysia and Philippines are working closely to resolve the conflict, through diplomacy and without bloodshed.

Feb 24 - The Philippine government sends a boat under humanitarian mission to ferry the 180 armed personnel, including 30 armed guards, holding up in Lahad Datu, Sabah since Feb 12. Feb 26 - The deadline to expel the group passes but negotiations are still in progress.

Feb 28 - The Malaysian government is urged to negotiate directly with sultan Jamalul Kiram III in Manila to end the conflict of seizing the area in Lahad Datu, Sabah which has prolonged for more than three weeks. The call is made by Jamalul's youngest brother, Agbimuddin Kiram, who stresses that only his brother can order the 180 Royal Army personnel to leave Felda Sahabat 17, Lahad Datu.


March 1 - a shootout breaks out between security forces and a small group of intruders when they try to break a police blockade in Kampung Tanduo, resulting in two police commandos dead and three others injured.

All 12 members of the small group of intruders are killed. - Bernama

Thursday, February 28, 2013

JAMBATAN RUNTUH HARIAN METRO 28/3/2013


PUTRAJAYA: Sebuah jambatan menghubungkan laluan dari Aman Putra, Puchong ke Cyberjaya runtuh kira-kira jam 1 petang, hari ini.

Jambatan berkenaan dibina melintasi Lebuh Raya Plus Putrajaya menghubungkan laluan ke Johor Bahru, Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur (KLIA), Ipoh, Shah Alam dan Subang Jaya.

Difahamkan, jambatan yang runtuh itu milik Perbadanan Kemajuan Negeri Selangor (PKNS) dan belum digunakan untuk laluan orang ramai.

Tinjauan di tempat kejadian juga mendapati masalah berkenaan tidak mengganggu perjalanan pengguna lalu-lintas dan tiada kecederaan serta kematian dilaporkan.


Saturday, February 23, 2013

Siapa kata pegawai kerajaan tak kreatif ?

Alhamdulilah, selasai kelas untuk kursus Skecthup dan powerplugs. Terima kasih kepada semua yang menjayakan kursus ini. disepanjang kursus saya dapati peserta begitu tekun dengan tugasan dan saya juga terpegun dengan beberapa orang peserta yang begitu kreatif dengan tugasan yang diberi. Jadi..siapa kata pegawai kerjaan tak kreatif?

Tengah membebel wakakaka...


Cuma, sayang sedikit saya tak dapat nak kongsi tugasan yang beri dengan rakan-rakan atas faktor keselamatan. Apapun, sebenarnya kita akan dapat apa yang kita nak jika kita bersungguh-sunguh dan menjadi lagi hebat kalau kita minat dan menyukai apa yang kita buat.

selamat maju jaya buat semua....


Saturday, February 16, 2013

HOTS-Highly Oder Thinking Skill

Pagi tadi saya telah menghadiri mesyuarat PIBG sekolah anak saya. Yang menarik perhatian saya apabila pengetua bercakap berkenaan dengan HOTS (Highly Order Thinking Skill). Kurikulum sekolah pada masa ini katanya hendak mewujudkan pemikiran yang kreatif dikalangan pelajar.















Apa yang menarik perhatian saya , sekarang sistem pendidikan kita lebih menekankan keputusan cemerlang dikalangan pelajar dan lebih menjurus kepada menghafal untuk menjawab peperiksaan, maka jadilah pelajar seperti burung kakak tua atau burung tiong yang sangat petah berkata-kata tanpa memahami apa yang diperkatakan.

Teringat saya ketika saya menjawat satu jawatan pengurus di sebuah syarikat swasta. Ketika mencari dan menemuduga calon untuk mengisi kekosongan sesuatu jawatan, saya perhatikan calon yang mempunyai keputusan yang bagus dalam peperiksaan agak sukar untuk menjawab soalan saya yang lebih kepada menyelesaikan sesuatu permasalahan. Bukan calon tersebut tidak bagus tetapi syarikat perlukan seseorang yang berfikiran kreatif dan boleh menghadapi sebarang masalah yang dihadapi.

Apa yang kita perlukan adalah seseorang yang mempunyai pemikiran kreatif dan saya kira dengan sistem pendidikan lama yang kita ada tidak begitu berkesan untuk melahirkan generasi sebegitu. Alhamdulillah, nampaknya ramai yang nak berubah dan sistem pendidikan kita berubah sikit demi sedikit.

Cuma diharapkan janganlah sekadar hangat-hangat taik ayam dan hanya berubah untuk keuntungan politik sahaja. Ibubapa berperanan penting dalam perkembangan otak anak-anak, jangan mengharapkan 100% dari pihak sekolah. Kita adalah acuan kepada anak kita, generasi kita...

Ini hanyalah pandangan peribadi dan sekadar catatan salafian salleh....terima kasih.